Pernahkah kau bertemu
dengan seorang dari dunia lain ? kali ini aku telah merasakannya. Tak pernah ku
kira di hari itulah semua berawal.
Sabtu, hujan deras mengguyurku di perjalanan pulang. Aku selalu kesal jika
hari itu tiba. Entah kenapa aku selalu mendapat kesialan seperti sekarang.
Padahal seragamku masih di pakai besok lagi untuk upacara Sumpah Pemuda. Aku
memilih jalan pintas dengan menyebrangi aliran sungai. Ku telusuri bebatuan
dengan hati-hati hingga kakiku melangkah di jalan sepi. Aku berlari kecil tanpa
henti. Remang-remang kulihat seorang berlari lalu menabrakku. Membuatku
terduduk pasrah. Tambah satu lagi kesialanku. Sebelum aku sempat berdiri, cowok
itu roboh di hadapanku.
“tunggu. Hei, bangunlah!
Jangan pingsan dihadapanku di saat sepi begini ,dong!” seruku namun sia-sia.
Tak ada cara selain memapahnya. Kami berlindung di sebuah gerdu. Tak lama cowok
itu membuka matanya.
“sudah sadar ya. Kau
membuatku takut.” Cowok itu tetap terdiam.
“kau kenapa?”
“....”
“ya sudah, kurasa kau
sudah baik-baik saja. Aku akan pulang.” Putusku sambil beranjak dari situ.
“...rina...” suara itu
membuatku berhenti. Aku menoleh tak percaya.
“kau tahu namaku?!” baru
kusadari cowok itu memakai seragam yang sama denganku. “kau siapa? Aku tidak
pernah melihatmu di sekolah.”
Cowok itu hanya tersenyum
memandangku. Sejak itu kami sering bertemu di gerdu itu. Dia asyik di ajak
bercerita. Tipe pendengar yang baik. Dia tau bagaimana harus bersikap. Sampai
suatu hari aku tersadar aku tak pernah mengenalnya.
“hei namamu siapa? Kau
telah mengenalku tapi namamu saja aku tidak tau. Kau curang.”
“ kamu tidak pernah
menanyakannya, kan.” Jawabnya sambil memandangku seperti biasa. Aku selalu
merasa ada sesuatu dalam tatapannya. “ namaku Reza.” Lanjutnya.
“ kau di kelas mana?”
Sejenak reza menatapku
diam lalu menjawabnya,” 2 IPA 1.”
“benarkah? Ternyata kau 1
tingkat di bawahku, ya. Ah! Aku harus pulang sekarang. Bye, reza!” kakiku
melangkah pergi di iringi lambaian tangan dan senyum khas reza. Kali ini senyum
itu terasa lain untukku. Membuat darahku berdesir. Saat itu, aku tak tau arti
dari senyuman itu.
Esoknya, aku ke gerdu seperti biasa. Entah kenapa ini telah menjadi
kebiasaanku sepulang sekolah. Sayang, kali ini tak kulihat batang hidungnya.
Mungkin dia ada kegiatan lain. aku kembali esok harinya, dan masih tak ada.
Esok, esok dan esoknya lagi masih sama.
Aku mengkhawatirkannya. Mungkin dia sedang sakit. Aku akan ke kelasnya besok.
“ disini ada 2 anak yang bernama Reza. Kakak cari reza yang mana?” tanya
salah satu adik kelasku.
“ehm, aku tidak tau nama lengkapnya. Memangnya mereka dimana sekarang?”
“ah, itu mereka sudah datang.” Tunjuknya di belakangku. Aku melihat
kearahnya. Namun tak satupun yang kukenal di antaranya. Akupun pulang ke
kelasku dengan gundah. Kenapa reza membohongiku? Mungkinkah dia bukan anak
sini? Tapi seragamnya sama denganku, pikirku. Mungkin aku bisa tanya ke ruang
TU. Setibanya, jawaban sama yang kudengar.
“ tahun ini Cuma 2 anak yang bernama reza di 2 IPA 1.” Jelas penjaga TU.
“Cuma, bu?”
“ia. Biasanya tiap tahun ada anak yang bernama reza di kelas itu. 2 tahun
yang lalu malah ada 5 anak.”
“bisakah saya melihat daftar siswanya bu? .” tanyaku antusias. Untung aku
lumayan dekat dengan penjaganya. Tak lama beliau datang dan menyerahkan
bukunya. Aku menelitinya dan menemukan yang kucari.
“oh, reza yang itu. Dia memang anak sini, mbak. Dia anak yang baik meski
sedikit bandel. Tapi sayang umurnya tak
sedikit lebih lama.”
“a,apa maksud ibu?” jantungku berdebar.
“dia di kabarkan kecelakaan dan meninggal di tempat. Ada urusan? Kalo mau
saya bisa ngasih alamatnya.” Tawarnya.
Tak sempat berpikir akhirnya aku mengangguk.
Dan sekarang aku telah berada di rumahnya. Bodohnya diriku yang tak
berpikir dulu. Apa yang harus kukatakan
jika keluarganya tanya tujuanku. Tidak mungkin aku mengatakan telah bermain
dengan anaknya beberapa hari lalu. Langkah kaki menghampiriku, jantungku
berdetak kencang. Sudah tak bisa mundur lagi. Aku menoleh ke arahnya. Di
depanku berdiri seorang cowok mungkin seumurku. Dia hanya diam melihatku. Lalu
meninggalkanku. Tak berapa lama cowok itu menghampiriki dan menyerahkan sebuah
amplop. Meski bingung, aku menerimanya. Ia mempersilahkanku duduk dan tetap
dengan tatapan mata elangnya mengarah padaku.
“kupikir aku takkan bertemu denganmu lagi.”ia memulai percakapan.
“kau mengenalku?”
“tidak, tapi kakakku selalu memikirkanmu.”
“apa maksudnya? Oh ya, dimana reza?” aku masih belum percaya bahwa reza
yang baru beberapa hari lalu disampingku telah meninggal 2 tahun yang lalu.
“ kau ingat peristiwa 2 tahun lalu? Saat sebuah truk hampir menabrakmu.”
“ ya, karena peristiwa itu juga, orang lain meninggal untuk menggantikanku,
aku jadi kesal tiap hari sabtu datang. Tapi, darimana kau tahu?”
“karena akulah adik orang yang meninggal itu. Reza telah mempertaruhkan
nyawanya untuk melindungimu, rina” Betapa terkejutnya aku. Peristiwa itu selalu
menghantuiku sampai sekarang. Aku selalu berharap bisa bertemu dengan
pelindungku itu dan tanpa kusadari, aku telah bertemu dengannya.
“tapi kenapa?”
“kau akan tahu setelah membaca surat di dalam amplop itu.” Dari arahannya,
akupun membuka amplop ini. sebuah mawar putih yang telah lama layu menempel
dalam surat itu. Aku mulai membacanya.
Hai,
aku Cuma ingin ngasih surat ini. aku tau kamu tidak mengenalku, tapi aku selalu
memperhatikanmu. Maaf mungkin aku seperti penguntit di matamu, tapi ku harap
kau mau mengenalku. 3 bulan ini aku berusaha mencari tahu tentangmu. Walau
begitu, tetap saja aku tak mampu untuk menatap matamu bahkan berada 1 meter di
hadapanmu. Haha.. sepertinya aku patut mendapat julukan “ pecundang sejati ”. meski
begitu, aku cukup bersyukur bisa bertemu dan melihat senyummu. Aku berharap
suatu saat nanti akan menjadi pelindungmu. Berdiri bersama denganmu, mendengar
suaramu dan melihat senyum manismu selamanya. Saat itu juga aku telah siap
mengucapkan mantra “ aku mencintaimu “.
Love,
Reza
Air mataku telah
menetes deras. Cowok itu memberikan tisu untukku.
“aku juga berada
di tempat kejadian.” Tuturnya, “ Aku harap kau tidak menyesali semua ini, karna
aku yakin kakakku takkan pernah menyesali kematiannya. Dia telah sukses menjadi
pelindungmu seperti isi surat itu.”
“terima kasih,”
kataku sambil menggenggam surat itu.
“ namaku, andika.
Btw, dari mana kau kenal Reza. Setauku kau masih belum mengenalnya hingga akhir
hidupnya.” Pertanyaan itu cukup mengejutkanku. Terkadang sebuah realita tidak
bisa dicerna oleh akal sehat. Biarlah ini menjadi rahasiaku. Akupun tersenyum,
“ aku bertemu dengan seseorang.”
TAMAT